Menjadi
Buruh migran atau yang biasa di kenal dengan sebutan TKI/TKW adalah suatu pilihan
terakhir bagi kalangan masyarakat pada umumnya di daerah pelosok lebih-lebih deaerah
yang berbatasan langsung dengan TNGR.
Mengapa
demikian?
Pertama
: karena memang rata-rata keadaan masyarakat tidak memiliki pekerjaan tetap atau
tidak memiliki lahan yang akan mereka garap untuk memenuhi kebutuhan seahari-hari atau untuk memenuhi kebutuhan yang laian seperti untuk membuat rumah maupun
kedaraan.
Yang
kedua : karena kebanyakan dari masyarakat tidak berpendidikan atau tidak
memiliki Life skill yang bisa diandalkan untuk mencari pekerjaan yang dapat
meberikan penghasilan yang sesuai dengan kebutuhan sehari-hari.
Yang
ketiga : ada juga masyarakat yang memiliki pendidikan maupun skill yang cukup,
bahkan juga memiliki lahan yang lumayan yang kira-kira kalu dapat dimanfaatkan atau
dikelola dengan baik niscaya akan memberikan penghasilan yang lumayan pula.
Akan tetapi terhalang dengan dana yang tidak dimiliki sebagai modal untuk
mengembangkan skill atau untuk mengelola lahan yang ada maka akhirnya mereka
memilih untuk menjadi TKI untuk mewujudkan
apa yang mereka cita-citakan.
Dengan
berbagai alasan dan sebab itulah banyak dari masyarakat memilih untuk bekerja
di luar negeri sebagai TKI maupun TKW dengan berbagai macam tujuan seperti
untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, membangun rumah, membeli kendaraan dan lain
sebagainya.
Dari
sekian bayak masyarakat yang memilih untuk bekerja keluar negeri sebagai TKI/TKW
tidak sedikit pula yang memperoleh kesuksesan, mereka medapatkan uang banyak,
bisa membangun rumah dan dapat membeli kedaraan yang menjadi idaman semasa
masih dirumah sebelum berangkat menjadi TKI/TKW. Dan tidak dinafikan juga bahwa
tidak sedikit yang gagal mendapatkan apa yang mereka impikan dari rumah bahkan
semakin menambah beban mereka, karena kadang-kadang mereka pergi meakai ongkos
pinjaman dari orang lain, kemudian sampai dinegara tujuan tidak sesuai dengan
apa yang diharapkan ataupun yang di janjikan oleh oknum tertentu ahirnya pulang
dengan ongkos yang dikirimkan dari rumah.
Namun
dari sekian banyak yang sukses gara-gara pergi keluar negeri untuk menjadi TKI/TKW
ternyata tidak banyak yang bisa memanfaatkan hasil jerih payah mereka terutama
oleh keluarga buruh migran yang ditinggalkan, menggunakannya sebagai modal usaha
yang berkelanjutan, atau untuk mengembangkan skill yang mereka miliki ataupun
untuk membeli lahan pertanian atau perkebunan yang akan bisa merka kerjakan dan
kembangkan pada saat merka sudah pulang ke kampung halaman.
Artinya
uang yang mereka hasilkan tidak hanya sekedar dipergunakan untuk memenuhi
kebutuhan sehari-hari, membangun rumah dan membeli kendaraan atau barang-barang yang
lain yang sifatnya konsumtif atau hanya
sekedar kebutuhan pelengkap saja, sehingga akibatnya tidak sedikit dari TKI/TKW
kita yang pulang pergi dan tidak betah di rumah bahkan ada yang sampai tua
hanya mengandalkan pekerjaan sebagai TKI/TKW saja.
Itulah
sebabnya dapat kita menyimpulkan bahwa tidak jarang dibalik kesuksesan seorang
TKI/TKW ternyata ada kegagalan dalam hal
memanfaatkan hasil mereka sebagai modal usaha ataupun untuk membeli lahan yang
bisa mereka kembangkan atau kerjakan setelah mereka pulang nanti, sehingga tidak terus menerus menggantukan kehidupan pada pekerjaan menjadi buruh migran atau menjadi TKI/TKW secara terus-menerus.










